“Setiap orang yang mau mengikuti AKU, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti AKU. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena AKU, ia akan memperolehnya”.
Setiap perutusan apa pun bentuknya, pasti memiliki risiko dan konsekuensi. Atas segala risiko dan konsekuensi tersebut, seorang utusan harus membuat pilihan: berhenti atau terus. Hanya orang terpilihlah yang akan tetap setia menjalankan perutusan meskipun risiko yang dihadapi demikian berat. Menyerahkan segala perkara kepada Tuhan adalah jalan terbaik ketika beban yang harus ditanggung terasa berat. Yeremia mengalami suatu persoalan dilematis. Ia berupaya keras untuk mewartakan Sabda Allah yang dipercayakan kepadanya dengan lantang, tetapi ia tidak mendapatkan sambutan dan penghargaan. Ia malah mendapat permusuhan, celaan, tuduhan, olok-olokan bahkan tertawaan.
Situasi ini telah mendorongnya untuk berhenti berbicara Sabda Allah namun Tuhan malah semakin membakar hatinya sehingga ia tidak tahan untuk tidak menyampaikannya. Yesus mewartakan hal yg sama kepada para murid-Nya, bahwa Ia harus menanggung banyak penderitaan sebagai dampak dari tugas perutusan-Nya. Yesus menerima penderitaan-Nya sebagai kehendak Allah bukan sebagai nasib buruk. Kita sebagai murid-Nya seharusnya mengikuti teladan-Nya rela dan berani menanggung penderitaan untuk melaksanakan kehendak Allah Bapa yg mengutus kita.
